Arsip untuk Desember, 2007

Ikhlas

28 Desember 2007

Browsing diskusi di quantumiklhas.com ketemu puisi di bawah ini. Belum ijin Pak Erri, tapi semoga beliau berkenan:

Living Ikhlas

Living Ikhlas is…
Don’t judge yourself or others

Living Ikhlas is…
Withdraw yourself and allow others

Living Ikhlas is…
Surrender!

Living Ikhlas is…
Thanksliving

Living Ikhlas is…
Be ready, time will coming

Living Ikhlas is…
Sincery prayes and hopes

Living Ikhlas is…
The honored of you as the sight of Allah SWT

Is he with the most Taqwa

Erri Soeraadiningrat

Spiritualpreneur of KATAHATI-USA

November’2007

Inspired by QS:Al-Fatihaa

Hikmah Baca Tempo Pagi Ini

27 Desember 2007

Tak biasanya saya membeli koran pagi menjelang naik kereta, kalau bukan hari Jumat. Biasanya hari Jumat saya membeli Republika karena ada sisipan Dialog Jumat. Bukan apa-apa, sisipan itu sekedar untuk menambah ilmu saya yang masih cetek.

Tapi Kamis pagi ini saya membeli koran dan entah kenapa saya pilih Tempo. Halaman demi halaman saya buka dan baca judul-judulnya saja. Saya berhenti pada judul “Tetes Mata Bisa Bikin Buta” dan membaca artikelnya.

Subhanallah, setelah saya renungkan ternyata ada hikmah dari “ketidak-sengajaan” saya membeli koran Tempo edisi Kamis 27 Desember 2007 ini. Di situ Profesor Suhardjo (Ketua Persatuan Dokter Mata Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta) mengatakan bahwa ada puluhan kasus anak di Rumah Sakit Professor Dr Sarjito yang mengalami kebutaan karena keseringan menggunakan obat tetes mata.

Kata Profesor Suhardjo banyak orang tua yang tidak tahu mengenai bahayanya menggunakan tetes mata yang menggandung steroid. Obat ini memang ampuh untuk mengatasi mata merah dan gatal-gatal akibat alergi yang sering terjangkit pada anak. Menurutnya, alergi itu akan hilang setelah anak dewasa.

Kebetulan putra sulung saya yang baru 10 tahun itu menderita alergi mata dan sering menggunakan obat tetes mata yang dijual secara bebas. Saya belum mengecek apakah obat itu mengandung steroid.

Jadi saya sangat bersyukur pagi ini karena informasi yang dimuat Tempo pagi ini. Inikah petunjuk yang Allah berikan, sebab setiap selepas solat saya berdoa untuk kesembuhan mata putra saya itu? Semoga, amien…

Berkurban Demi Kebaikan Bersama

26 Desember 2007

Tersentuh juga hati ini ketika menerima ucapan Idul Adha dari seorang teman lama. Ucapannya begini, “Selamat Iedhul Qurban ya…. semoga kita semua lebih ikhlas berkurban untuk kebaikan kita bersama.”

Baru kali ini saya terima ucapan seperti itu. Biasanya kalau Idul Adha tidak pakai “selamat-selamatan”, baik lewat SMS atau email. Baru pada Idul Adha 1428 ini saya mendapat ucapan, satu lewat SMS dan satu lewat email. Yang lewat email itupun diucapkannya sambil lalu karena isi email tidak khusus untuk ucapan tapi ada urusan pekerjaan. Walaupun begitu, ucapan ini sempat membuat saya tercenung.

Biasanya kalau Idul Adha itu ya keluar uang untuk beli kambing. Kambingnya disembelih oleh pengurus masjid dekat rumah dan kemudian dagingnya dibagikan ke yang berhak. Saya tidak perlu repot-repot menyembelih sediri. Nilai dari ibadah ini ya cuma pengorbanan sejumlah uang tadi itu. Dan sifatnya rutinitas seperti itu setiap tahun.

Tetapi ucapan tadi itu sungguh menyentuh saya. Pengurbanan berupa pengeluaran uang untuk kambing barangkali “ringan”. Sebab, Yang Di Atas sudah mengaruniai rejeki berlebih dan kita tinggal mengeluarkan sebagian untuk beli kambing.

Tetapi kalau menyangkut makna pengurbanan seperti yang diucapkan teman saya tadi itu agak lebih berat. Entahlah mungkin ucapan teman saya itu berkaitan dengan kejadian yang saya alami setahun terakhir ini. Saya harus mengikhlaskan sesuatu demi kebaikan bersama. Saya baru menyadari keikhlasan saya selama ini dipaksa oleh keadaan, walaupun saya sudah setiap hari berdoa supaya saya ikhlas. Ternyata, saya belum benar-benar ikhlas. Buktinya ucapan tadi itu masih membuat saya tersentuh.

Ternyata gitu lho…. saya harus berkorban ikhlas, walaupun tak seikhlas Nabi Ibrahim ketika akan “mengorbankan” putra tercintanya, Ismail, demi kebaikan bersama. Ya Allah…..