Berkurban Demi Kebaikan Bersama

By hamba

Tersentuh juga hati ini ketika menerima ucapan Idul Adha dari seorang teman lama. Ucapannya begini, “Selamat Iedhul Qurban ya…. semoga kita semua lebih ikhlas berkurban untuk kebaikan kita bersama.”

Baru kali ini saya terima ucapan seperti itu. Biasanya kalau Idul Adha tidak pakai “selamat-selamatan”, baik lewat SMS atau email. Baru pada Idul Adha 1428 ini saya mendapat ucapan, satu lewat SMS dan satu lewat email. Yang lewat email itupun diucapkannya sambil lalu karena isi email tidak khusus untuk ucapan tapi ada urusan pekerjaan. Walaupun begitu, ucapan ini sempat membuat saya tercenung.

Biasanya kalau Idul Adha itu ya keluar uang untuk beli kambing. Kambingnya disembelih oleh pengurus masjid dekat rumah dan kemudian dagingnya dibagikan ke yang berhak. Saya tidak perlu repot-repot menyembelih sediri. Nilai dari ibadah ini ya cuma pengorbanan sejumlah uang tadi itu. Dan sifatnya rutinitas seperti itu setiap tahun.

Tetapi ucapan tadi itu sungguh menyentuh saya. Pengurbanan berupa pengeluaran uang untuk kambing barangkali “ringan”. Sebab, Yang Di Atas sudah mengaruniai rejeki berlebih dan kita tinggal mengeluarkan sebagian untuk beli kambing.

Tetapi kalau menyangkut makna pengurbanan seperti yang diucapkan teman saya tadi itu agak lebih berat. Entahlah mungkin ucapan teman saya itu berkaitan dengan kejadian yang saya alami setahun terakhir ini. Saya harus mengikhlaskan sesuatu demi kebaikan bersama. Saya baru menyadari keikhlasan saya selama ini dipaksa oleh keadaan, walaupun saya sudah setiap hari berdoa supaya saya ikhlas. Ternyata, saya belum benar-benar ikhlas. Buktinya ucapan tadi itu masih membuat saya tersentuh.

Ternyata gitu lho…. saya harus berkorban ikhlas, walaupun tak seikhlas Nabi Ibrahim ketika akan “mengorbankan” putra tercintanya, Ismail, demi kebaikan bersama. Ya Allah…..

Tinggalkan Balasan